Welcome to Dianka's world. Be nice here. Thank you! +Follow | Dashboard
Diary Of Dianka
Kenangan di PKM IV
Friday, July 15, 2016 Friday, July 15, 2016 0 comments

Ada kalanya saya jenuh dengan pekerjaan yang saya lakukan saat ini. Namun, seringkali saya mengingat kembali suka-duka dan kenangan yang telah saya lalui.

Pertama kali saat saya menjadi "anak baru" di RSPAD Gatot Soebroto, selama seminggu bergiliran, saya di tempatkan di macam macam depo. Saya hanya sempat merasakan berada di PKM1, PKM2, Depo Perawatan Umum, dan terakhir di PKM4. Yang pada akhirnya selama satu tahun kedepannya, saya ditempatkan disana.

Saya teringat saat masa-masa pertama kali berada di loket Penyerahan Resep. Walaupun didampingi oleh senior, namun tetap tidak mengubah kegugupan yang saya rasa. 

Oia, sebelum berada di Loket Penyerahan, saya harus melewati banyak proses. Mulai dari menghapal nama nama obat yang biasa diresepkan oleh dokter, letak dan fungsi obat, dan menulis etiket. Apabila saya sudah di anggap mampu, saya boleh mengemas resep dan menyerahkan obat.

Saya senang berinteraksi dengan pasien karna saya jadi memahami karakter dan kepribadian masing masing individu. Selain itu, berada di Loket Penyerahan Obat membuat saya lebih berani untuk tampil di depan umum.

Terlebih lagi, pasien pasien yang menebus resep di PKM 4 merupakan pensiunan tentara dan PNS. Namun, ada pula pasien TNI atau PNS yang masih aktif. Hal ini pun berpengaruh kepada saya. Melatih cara berbicara saya supaya lebih sopan terutama terhadap orang lain yang lebih tua. 


Taman RSPAD Gatot Soebroto

Jujur, pelayanan resep di PKM4 saya merasakannya berjalan lambat. Seringkali pasien merasa resah dan gelisah saat menunggu. Mengapa lama? Karna dalam pengerjaan resep membutuhkan tahapan, dan tahapannya tidak sedikit. Tidak hanya sekedar mengambil obat kemudian dibungkus dalam plastik, kemudian diserahkan. 

Semua butuh proses. Dan setiap resep harus di verifikasi berulang kali. Jumlah resep setiap harinya tidak sedikit, bisa mencapai > 300, dengan komponen obat yang jumlahnya tidak sedikit pula :( 

Untuk pasien yang sudah memahami hal tersebut, biasanya mereka sengaja menebus resep kemudian mereka pulang kerumah dan mengambilnya sore hari. Pasien pasien ini merupakan pasien yang setiap bulannya langganan berobat di RSPAD. Bila pasien tersebut cerdas, mereka pun memajukan beberapa hari kontrol ke dokter sebelum persediaan obat mereka habis, khusus untuk pasien yang memilih untuk mengambil resep obat keesokan harinya. 

Saya pun sangat menyesalkan apabila pengerjaan resep saat itu dirasa sangat lama :( Saya hanya bisa meminta maaf kepada pasien atau anda yang pernah mengalami saat-saat tidak menyenangkan menebus resep di PKM4.

Saya sudah pernah merasakan dimarahi, dimaki, direkam suaranya, sampai diancam akan dilaporkan. Namun, saya paham bahwa semua hal itu adalah keresahan dari pasien yang lama menunggu obat..

Saya senang mengamati pasien yang sedang menunggu obat. Manis sekali saat melihat pasangan kakek-nenek duduk bersebelahan menunggu resep. Ada pasangan kakek yang sedang membaca koran, sedangkan nenek membaca buku. Ada pula kakek yang sembari menunggu obat, sedang memakan bekal makan yang telah disiapkan sebelumnya. Kakek maupun nenek yang dengan setia mendorong pasangannya dengan menggunakan kursi roda pun ada. Saya rasa, seperti itulah contoh kisah cinta yang sejati :') *terharu

Saya kembali teringat, ada pasien langganan ibu-bapak yang menebus resep di PKM4. Mereka pasien BPJS. PKM4 sempat melayani resep BPJS, saat program tersebut mulai berjalan. Ibu-bapak itu memperlakukan saya dengan sangat baik. Mereka sabar menunggu dan menghargai pekerjaan yang saya lakukan. Saya terharu saat mereka memanggil saya dengan panggilan "Nak". Seolah, mereka orangtua saya sendiri. Dan apabila saya menjelaskan, mereka mau mendengarkan. Semoga sehat selalu ya Pak, Bu.



Seringnya saya dipanggil oleh pasien dengan sebutan "Mba" atau "Bu" atau "Suster". Saya agak sedikit unmood ketika dipanggil "Bu", setua itukah wajah saya sehingga terlihat seperti ibu-ibu? Padahal saat itu saya masih berusia 18/19tahun :D

Ada lagi, pasien unik yang setiap kali selesai mengambil obat disana, selalu menyempatkan diri untuk bersalaman dengan saya. Awalnya saya ragu dan merasa kikuk, namun akhirnya saya terbiasa dan saya pun bukannya salaman malah salim kepada bapak itu. Nama bapak itu Pak Anton. Saya pernah diberi kartu nama. Beliau merupakan pensiunan tentara dan memiliki sebuah toko kacamata di daerah Blok M. 

Ah, sebetulnya masih banyak kenangan yang saya alami disana. Dan tidak akan habis untuk diceritakan. Mungkin di lain waktu, saya bisa menceritakannya lagi :)

Perlu diketahui, PKM4 sudah tidak ada. Semua personilnya diarahkan ke Instalasi Farmasi Pusat. Namun, ada juga beberapa orang yang dipencar kebagian lain. 

PKM4 memang sudah tidak ada. Namun, semua kenangan saat berada disana tidak akan pernah hilang dalam ingatan..

#SalamFarmasi

Labels:


Librocubicularist



Hey , you're welcoming here . This is my official bloggie . All in this blog is Mine. Blog consists of daily rants like what I do and what I like. Totally boring, so I'd suggest you click the 'x' at the top right corner of your screen

Profile
Stuff



Gotcha!



Memories



Credits

This layout is best viewed in Google Chrome
Thanks to :

My Treasure

Cerpen
Catatan Pribadi
Desain
Kutipan
Misteri
Motivasi
Manajemen
Romansa
Untaian Kata